Assalamu'alaikum
Salam SUPER!!! yap, libur lebaran kali ini gue mencoba untuk melakukan hal-hal yang produktif. Dan inilah sedikit hasil produktifitas saat libur lebaran ;) Enjoy~
Ini adalah rancangan desain jersey SciFi!, kelasku tercinta,
Oh iya selain itu, liburan kali ini gue lagi menyibukkan diri bikin essay. Yup essay untuk pendaftaran ISLC UI, semoga saja Allah memberikan jalan yang terbaik. Aamiin
Oke, kali ini hanya sekian, wassalamu'alaikum ;D
Syarif menempuh pendidikan ELS di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. HBS di Bandung satu tahun, THS Bandung tidak tamat, kemudian KMA di Breda, Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda. Ketika ayahnya mangkat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 dia diangkat menjadi sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II. Sultan Hamid II kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yakni sebuah pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda dan orang Indonesia pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran.
Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, dia diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio dan selama jabatan menteri negara itu ia ditugaskan Presiden Soekarno merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.Tanggal 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Porto Folio Sultan Hamid II dengan susunan panitia teknis Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota. Panitia ini bertugas menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.
Merujuk
keterangan Bung Hatta dalam buku “Bung Hatta Menjawab” untuk
melaksanakan Keputusan Sidang Kabinet tersebut Menteri Priyono
melaksanakan sayembara. Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik,
yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M. Yamin. Pada proses selanjutnya
yang diterima pemerintah dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Karya
M. Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari dan
menampakkan pengaruh Jepang.
Setelah rancangan terpilih, dialog intensif antara perancang (Sultan
Hamid II), Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Mohammad Hatta,
terus dilakukan untuk keperluan penyempurnaan rancangan itu. Terjadi
kesepakatan mereka bertiga, mengganti pita yang dicengkeram Garuda, yang
semula adalah pita merah putih menjadi pita putih dengan menambahkan
semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.Pada tanggal 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara yang dibuat Menteri Negara RIS, Sultan Hamid II diajukan kepada Presiden Soekarno. Rancangan final lambang negara tersebut mendapat masukan dari Partai Masyumi untuk dipertimbangkan, karena adanya keberatan terhadap gambar burung garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dan dianggap bersifat mitologis.
Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali – Garuda Pancasila dan disingkat Garuda Pancasila. Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut kepada Kabinet RIS melalui Moh Hatta sebagai perdana menteri.
AG Pringgodigdo dalam bukunya “Sekitar Pancasila” terbitan Departemen Hankam, Pusat Sejarah ABRI menyebutkan, rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS. Ketika itu gambar bentuk kepala Rajawali Garuda Pancasila masih “gundul” dan “’tidak berjambul”’ seperti bentuk sekarang ini.
Inilah karya kebangsaan anak-anak negeri yang diramu dari berbagai aspirasi dan kemudian dirancang oleh seorang anak bangsa, Sultan Hamid II Menteri Negara RIS. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara itu kepada khalayak umum di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.
Penyempurnaan
kembali lambang negara itu terus diupayakan. Kepala burung Rajawali
Garuda Pancasila yang “gundul” menjadi “berjambul” dilakukan. Bentuk
cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang
menjadi menghadap ke depan juga diperbaiki, atas masukan Presiden
Soekarno. Tanggal 20 Maret 1950, bentuk akhir gambar lambang negara
yang telah diperbaiki mendapat disposisi Presiden Soekarno, yang
kemudian memerintahkan pelukis istana, Dullah, untuk melukis kembali
rancangan tersebut sesuai bentuk akhir rancangan Menteri Negara RIS
Sultan Hamid II yang dipergunakan secara resmi sampai saat ini.
Untuk
terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk
final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan
tata warna gambar lambang negara di mana lukisan otentiknya diserahkan
kepada H. Masagung, Yayasan Idayu Jakarta pada 18 Juli 1974.
Sedangkan Lambang Negara yang ada disposisi Presiden Soekarno dan foto
gambar lambang negara yang diserahkan ke Presiden Soekarno pada awal
Februari 1950 masih tetap disimpan oleh Kraton Kadriyah, Pontianak.
Dari transkrip rekaman dialog Sultan Hamid II dengan Masagung (1974)
sewaktu penyerahan berkas dokumen proses perancangan lambang negara,
disebutkan “ide perisai Pancasila” muncul saat Sultan Hamid II sedang
merancang lambang negara. Dia teringat ucapan Presiden Soekarno, bahwa
hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa, dasar
negara Indonesia, di mana sila-sila dari dasar negara, yaitu Pancasila
divisualisasikan dalam lambang negara. (Sumber)
Assalamu'alaikum
Selamat malam dan salam sejahtera.
Yah pada kesempatan kali ini hanya ingin berbagi sebuah cerita yang dikarang oleh kelas saya dulu "EXPONENT", dimana saat pelajaran Bahasa Indonesia kami disuruh untuk membuat "Rantai Cerita". Permainan yang dilakukan oleh semua anggota kelas, setiap anak harus menyumbang minimal satu kalimat. Langsung saja, inilah ceritanya:
Pagi hari aku telah duduk di kelas ini sendiri. Hari masih gelap, matahari belum muncul. Lama aku menunggu, tak ada teman yang datang. Tiba-tiba seperti ada yang membuka pintu, kriiieeet.. Aku menerka, kira-kira siapa yang telah datang. Saat telah kutengok, ternyata itu adalah seorang lelaki botak yang sedang menari-nari. Dia menepuk bahuku, dan aku pun merinding. GEDEBUG, orang itu jatuh tergeletak di lantai dan mulutnya mengeluarkan busa seperti orang ayan. Ku tatap wajahnya yang tergeletak itu. Lalu kuperiksa, ternyata ada kaos kaki di tangannya.
Kaos kaki itu berwarna hijau, dan berinisial “T.I”. ku ambil, dan kucium kaos kaki itu.
Aku bingung, dari mana asal-usul kaos kaki itu.
Tiba-tiba datang seseorang menghampiriku. Seorang itu datang dengan ketakutan. Ia menjelaskan kepadaku bahwa orang yang tadi jatuh mempunyai penyakit ayan yang akut. Rupanya penyebab ia jatuh adalah kaos kaki itu. Aku berpikir bahwa kaos kai itu adalah kaos kaki ajaib. Kaos kaki itu aku bawa ke lab untuk diteliti. Lalu, aku jadi teringat tentang kaos kaki hijau milikku yang hilang sebulan yang lalu. Ternyata itu adalah kaos kaki termahal yang ibuku pernah belikan untukku. Kaos kaki itu kubawa pulang untuk dicuci.
Lalu aku mendengar sirine ambulance, NGIUUNG NGIUUNG NGIUUNG… Aku teringat pada orang yang jatuh di kelas tadi. Tiba-tiba datang 2 orang lain ke rumahku untuk mengambil kaos kaki tadi sebagai barang bukti. Aku pun bingung gelisah ketakutan. Polisi itu memaksaku untuk ikut mereka sebagai tersangka.
Aku dibawa ke ruang eksekusi dan dihukum mati. Tiba-tiba aku jatuh dan terbangun dari mimpiku. Dan aku sadari, Pak Ded** sedang mengajar di depanku.
AND WE LIVE HAPPILY EVER AFTER,
-THE END-
Selamat malam dan salam sejahtera.
Yah pada kesempatan kali ini hanya ingin berbagi sebuah cerita yang dikarang oleh kelas saya dulu "EXPONENT", dimana saat pelajaran Bahasa Indonesia kami disuruh untuk membuat "Rantai Cerita". Permainan yang dilakukan oleh semua anggota kelas, setiap anak harus menyumbang minimal satu kalimat. Langsung saja, inilah ceritanya:
Pagi hari aku telah duduk di kelas ini sendiri. Hari masih gelap, matahari belum muncul. Lama aku menunggu, tak ada teman yang datang. Tiba-tiba seperti ada yang membuka pintu, kriiieeet.. Aku menerka, kira-kira siapa yang telah datang. Saat telah kutengok, ternyata itu adalah seorang lelaki botak yang sedang menari-nari. Dia menepuk bahuku, dan aku pun merinding. GEDEBUG, orang itu jatuh tergeletak di lantai dan mulutnya mengeluarkan busa seperti orang ayan. Ku tatap wajahnya yang tergeletak itu. Lalu kuperiksa, ternyata ada kaos kaki di tangannya.
Kaos kaki itu berwarna hijau, dan berinisial “T.I”. ku ambil, dan kucium kaos kaki itu.
Aku bingung, dari mana asal-usul kaos kaki itu.
Tiba-tiba datang seseorang menghampiriku. Seorang itu datang dengan ketakutan. Ia menjelaskan kepadaku bahwa orang yang tadi jatuh mempunyai penyakit ayan yang akut. Rupanya penyebab ia jatuh adalah kaos kaki itu. Aku berpikir bahwa kaos kai itu adalah kaos kaki ajaib. Kaos kaki itu aku bawa ke lab untuk diteliti. Lalu, aku jadi teringat tentang kaos kaki hijau milikku yang hilang sebulan yang lalu. Ternyata itu adalah kaos kaki termahal yang ibuku pernah belikan untukku. Kaos kaki itu kubawa pulang untuk dicuci.
Lalu aku mendengar sirine ambulance, NGIUUNG NGIUUNG NGIUUNG… Aku teringat pada orang yang jatuh di kelas tadi. Tiba-tiba datang 2 orang lain ke rumahku untuk mengambil kaos kaki tadi sebagai barang bukti. Aku pun bingung gelisah ketakutan. Polisi itu memaksaku untuk ikut mereka sebagai tersangka.
Aku dibawa ke ruang eksekusi dan dihukum mati. Tiba-tiba aku jatuh dan terbangun dari mimpiku. Dan aku sadari, Pak Ded** sedang mengajar di depanku.
AND WE LIVE HAPPILY EVER AFTER,
-THE END-
Mungkin kita bukan siapa-siapa
Mungkin kita bukan apa-apa
Hanya perkumpulan bocah, yang dengan semangatnya
Ingin berusaha...
Yang dengan senyum hangatnya selalu menyapa...
Meski sebenarnya didalamnya ada air mata
Yang dengan tulusnya menjalani kebersamaan...
Meski kadang ada kesalah pahaman
Yang dengan ikhlasnya menerima kekurangan...
Meski banyak membutuhukan kesabaran
Yang dengan bijaknya memutuskan...
Meski jalan pikiran sebenarnya semrawutan
Yang dengan usahanya, tak dapat terdeskripsikan...
Meski tertatih dan tak mampu sendirian
Yang dengan cintanya membangun sebuah kekeluargaan...
Dalam bangunan yang telah di depan mata
MPK/OSIS!!
~by: Arini Wulansari~
Langganan:
Postingan (Atom)











- Follow Us on Twitter!
- "Join Me on Facebook!
- RSS
E-mail me